Menu

Mode Gelap
HMI BADKO SULSEL:Tantang Kapolrestabes Makassar Debat Terbuka Terkait Kasus Pembunuhan Remaja dalam Perspektif Perpol No.1 Tahun 2009 FANATIK Siap Kepung Kejati Sulsel, Desak Usut Dugaan Korupsi Proyek Jalan dan Drainase Rp21,6 Miliar Desakan Copot Kapolrestabes Makassar Menguat, HMI Badko Sulsel: Kepemimpinan Polisi Harus Bertanggung Jawab Mantum HMI Megarezky Desak Evaluasi Prosedur Senjata Api Polisi Usai Penembakan Remaja di Makassar” Gerakan koalisi lintas lembaga akan geruduk Pertamina regional vll dan SPBU 74.902.22

News · 2 Jan 2026 WITA ·

OPINI: Menyongsong 2026, Memutus Rantai Syahwat Oligarki dan Sengkarut Tata Kelola Negeri


 OPINI: Menyongsong 2026, Memutus Rantai Syahwat Oligarki dan Sengkarut Tata Kelola Negeri Perbesar

 

Foto Muh. Abduh AG Direktur Eksekutif PRI

_Oleh: Muhammad Abduh Azizul Gaffar Directur executif Public research institute_

Makassar, 2 Januari 2026 – Memasuki hari kedua di tahun 2026, Indonesia tidak sedang dalam kondisi yang baik-baik saja. Di balik gemerlap perayaan pergantian tahun, terbentang realitas pahit mengenai carut-marut tata kelola negara yang kian menjauh dari nilai-nilai konstitusi. Kita sedang menyaksikan sebuah drama kolosal di mana kepentingan publik dikorbankan demi syahwat politik dan ekonomi segelintir elite.

Persoalan utama yang kita hadapi saat ini adalah akumulasi kekuasaan yang terpusat pada lingkaran oligarki. Tata kelola pemerintahan tidak lagi dijalankan berbasis pada teknokrasi yang sehat atau partisipasi publik yang bermakna, melainkan melalui transaksi di ruang-ruang gelap. Dampaknya sangat nyata: kebijakan publik yang lahir seringkali timpang dan hanya menguntungkan mereka yang memiliki akses ke pusat kekuasaan.

Salah satu potret paling memilukan dari pongahnya oligarki ini adalah eksploitasi sumber daya alam yang ugal-ugalan. Hutan-hutan kita, yang seharusnya menjadi paru-paru dunia dan benteng pertahanan iklim, terus digunduli dengan dalih investasi dan pertumbuhan ekonomi. Penghancuran ekosistem ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan kejahatan kemanusiaan sistematik yang merampas hak-hak masyarakat adat dan mengancam keberlanjutan generasi mendatang.

Izin-izin konsesi diberikan seperti obral di pasar malam, seringkali menabrak aturan hukum dan mengabaikan analisis dampak lingkungan yang jujur. Para oligarki, dengan sokongan instrumen kekuasaan, merasa di atas hukum. Mereka memandang tegakan pohon hanya sebagai angka dalam neraca saldo, tanpa peduli pada bencana ekologis yang kian rutin menyapa rakyat kecil di berbagai pelosok daerah.

Foto Muh. Abduh AG Direktur Eksekutif PRI

Tahun 2026 harus menjadi titik balik. Kita tidak bisa terus membiarkan negara ini dikelola dengan manajemen “aji mumpung”. Public Research Institute mendesak agar pemerintah segera melakukan hal-hal berikut:

Baca Juga :  Kunjungi Dua Longwis, Walikota Makassar Himbau Manfaatkan Semua Lahan Kosong

1. *Audit Total Tata Kelola Sektor SDA*: Lakukan peninjauan kembali terhadap seluruh izin konsesi lahan hutan yang dikeluarkan dalam lima tahun terakhir. Cabut izin yang terbukti melanggar hukum dan merusak ekosistem.
2. *Dekonsentrasi Kekuasaan*: Putus rantai pengaruh oligarki dalam pengambilan kebijakan strategis nasional. Kembalikan kedaulatan pembuatan regulasi ke tangan publik melalui mekanisme partisipasi yang transparan.
3. *Reformasi Birokrasi Berbasis Integritas*: Tata kelola negara yang buruk berakar dari birokrasi yang korup. Penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan lingkungan dan koruptor kebijakan harus dilakukan tanpa pandang bulu.

Jika di tahun 2026 ini para pemegang kebijakan masih menutup mata terhadap penggundulan hutan dan carut-marut tata kelola ini, maka kita sedang menuju “kebangkrutan ekologis” dan “keruntuhan sosial”. Rakyat tidak boleh lagi hanya menjadi penonton dalam panggung penghancuran masa depan mereka sendiri.
Mari kita jadikan 2026 sebagai tahun perlawanan terhadap kepongahan oligarki dan tahun pemulihan bagi kedaulatan tata kelola Republik Indonesia.

Artikel ini telah dibaca 65 kali

Baca Lainnya

HMI BADKO SULSEL:Tantang Kapolrestabes Makassar Debat Terbuka Terkait Kasus Pembunuhan Remaja dalam Perspektif Perpol No.1 Tahun 2009

10 Maret 2026 - 20:37 WITA

FANATIK Siap Kepung Kejati Sulsel, Desak Usut Dugaan Korupsi Proyek Jalan dan Drainase Rp21,6 Miliar

9 Maret 2026 - 15:36 WITA

Desakan Copot Kapolrestabes Makassar Menguat, HMI Badko Sulsel: Kepemimpinan Polisi Harus Bertanggung Jawab

8 Maret 2026 - 22:20 WITA

Mantum HMI Megarezky Desak Evaluasi Prosedur Senjata Api Polisi Usai Penembakan Remaja di Makassar”

7 Maret 2026 - 19:31 WITA

Gerakan koalisi lintas lembaga akan geruduk Pertamina regional vll dan SPBU 74.902.22

5 Maret 2026 - 00:00 WITA

Disorot Massa Aksi, Kepemimpinan Plt Kadis Pertanian Jeneponto Dipertanyakan

4 Maret 2026 - 07:40 WITA

Trending di News
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://jurnal-dev.polbangtan-bogor.ac.id/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://jurnal-dev.polbangtan-bogor.ac.id/doc/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/doc/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/apps/