Menu

Mode Gelap
Antara Rakyat dan Rompi Oranye: Labirin Maut Kepala Daerah di Tahun 2026 Tragedi Kemanusiaan di Kabaena: Kegagalan Tata Kelola Kesehatan dan Pengkhianatan terhadap Asta Cita Menjaga Kedaulatan di Tangan Rakyat: Menolak Narasi Pilkada Melalui DPRD dalam Revisi UU Pemilu POLRES BULUKUMBA TAK BERNYALI MENYENTUH OTAK PENDIRI ARENA SABUNG AYAM DI KEC KAJANG Mobil Mewah Diduga Milik Wakil Bupati Bulukumba Pakai Plat ‘Bodong’, Tunggak Pajak

Edukasi · 3 Jan 2026 WITA ·

OPINI : Pesta Kleptokrasi dan Bunuh Diri Ekologis, Saat Negara Menjadi Musuh Alam.


 OPINI : Pesta Kleptokrasi dan Bunuh Diri Ekologis, Saat Negara Menjadi Musuh Alam. Perbesar

Oleh: Muhammad Abduh Azizul Gaffar.
(Direktur Eksekutif Public Research Institute)

Makassar,03 Januari, 2026.- Indonesia hari ini sedang dipertontonkan sebuah parade kepongahan yang telanjang. Di tengah jeritan rakyat yang kehilangan ruang hidup, para elit politik dan pejabat publik justru semakin asyik memperkukuh tembok kleptokrasi melalui kebijakan-kebijakan yang mencederai akal sehat. Negara seolah bukan lagi pelayan publik, melainkan instrumen akumulasi kekayaan segelintir orang.

Rekam jejak para elit kita menunjukkan pola yang konsisten, yakni kebijakan institusional sering kali menjadi “pintu belakang” bagi praktik penjarahan sumber daya alam. Kita melihat bagaimana regulasi di tingkat pusat hingga daerah sengaja dibuat ambigu demi memuluskan izin-izin ekstraktif. Fenomena ini bukan sekadar korupsi biasa, melainkan kleptokrasi yang terstruktur, di mana lembaga negara digunakan untuk melegalkan perampokan aset publik demi kepentingan oligarki.

Dampak paling nyata dari perilaku kleptokratis ini adalah hancurnya benteng pertahanan alam kita. Pembalakan hutan yang masif di Aceh, Sumatra, hingga Papua bukanlah kecelakaan lingkungan, melainkan akibat langsung dari kebijakan yang mengabaikan ekologi demi investasi instan. Di Aceh dan berbagai wilayah Sumatra, hutan penyangga terus digerus, sementara di Papua, “tanah surga” itu kini dikapling-kapling atas nama pembangunan yang tidak menyentuh kesejahteraan akar rumput.

Akibatnya fatal. Banjir bandang dan tanah longsor kini menjadi tamu rutin yang mematikan. Namun, di sinilah letak ironi terbesar, ketika ribuan rakyat mengungsi dan kehilangan nyawa, pemerintah justru enggan menetapkan peristiwa-peristiwa ini sebagai Bencana Nasional.Penolakan status ini bukan tanpa alasan teknis semata, melainkan sebuah manuver politik untuk menghindari tanggung jawab besar dan anggaran yang seharusnya dialokasikan secara penuh untuk pemulihan.

Baca Juga :  Masa Depan Startup

Alih-alih menetapkan status bencana nasional, kita justru disuguhi pemandangan muak, para pejabat yang datang ke lokasi bencana hanya untuk pencitraan. Mereka hadir dengan seragam rapi, berfoto di atas penderitaan rakyat, lalu pulang tanpa membawa solusi sistemik untuk menghentikan deforestasi yang menjadi akar masalah. Bencana bagi mereka hanyalah panggung baliho, bukan momentum evaluasi kebijakan.

Kritik keras harus dilayangkan kepada lembaga-lembaga negara yang terus memproduksi kebijakan pro-kleptokrasi. Jika pemberian izin konsesi hutan terus diprioritaskan di atas keselamatan warga, maka negara ini sedang berjalan menuju bunuh diri ekologis. Kita tidak butuh pejabat yang pandai berswafoto di lokasi banjir, kita butuh pemimpin yang berani mencabut izin perusahaan perusak hutan dan mengembalikan kedaulatan lahan kepada rakyat. Sudah saatnya kita berhenti menoleransi kepongahan ini.

Rekam jejak kelam para elit dan kebijakan yang berbau kleptokrasi harus dilawan dengan pengawasan publik yang ketat. Jika tidak, hutan Aceh, Sumatra, dan Papua hanya akan tinggal kenangan dalam buku sejarah, sementara rakyatnya terkubur dalam lumpur bencana yang dibuat oleh tangan-tangan penguasa mereka sendiri.

Artikel ini telah dibaca 33 kali

Baca Lainnya

Antara Rakyat dan Rompi Oranye: Labirin Maut Kepala Daerah di Tahun 2026

20 Januari 2026 - 16:47 WITA

Tragedi Kemanusiaan di Kabaena: Kegagalan Tata Kelola Kesehatan dan Pengkhianatan terhadap Asta Cita

20 Januari 2026 - 14:27 WITA

Duit Rakyat Nyangkut Miliaran, PRI Ancam Demo Besar-besaran Mendesak Kajati Sulsel menangkap dan Mengadili Ketua DPRD Parepare Kaharuddin Kadir !

18 Januari 2026 - 17:30 WITA

“Negara di Ujung Tanduk: Saat Jenderal Diduga Jadi Teknisi Mesin Pembunuh Narkoba

18 Januari 2026 - 03:22 WITA

Menjaga Kedaulatan di Tangan Rakyat: Menolak Narasi Pilkada Melalui DPRD dalam Revisi UU Pemilu

17 Januari 2026 - 07:31 WITA

Dr. Mulyadin Apresiasi Penghargaan Presiden Prabowo kepada Don Muzakir atas Peran Wujudkan Swasembada Pangan

8 Januari 2026 - 17:34 WITA

Trending di Edukasi
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://jurnal-dev.polbangtan-bogor.ac.id/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://jurnal-dev.polbangtan-bogor.ac.id/doc/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/doc/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/apps/