Oleh: Muhammad Abduh Azizul Gaffar
Idul Fitri 1447 Hijriah kembali hadir sebagai momentum sakral untuk kembali ke fitrah. Namun di tengah gema takbir yang menggema, ada kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. negeri ini kian jauh dari nilai kejujuran dan keadilan. Kita seperti merayakan kesucian di atas fondasi yang rapuh,fondasi yang digerogoti oleh keserakahan, kebijakan yang gagap, dan ancaman krisis yang nyata di depan mata.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, publik disuguhi berbagai program yang diklaim sebagai solusi. Salah satunya adalah skema yang dibungkus dalam narasi pemberdayaan seperti MBG Koperasi Desa Merah Putih. Secara konsep, gagasan ini terdengar menjanjikan untuk menguatkan ekonomi desa, membangun kemandirian, dan memperluas akses kesejahteraan. Namun persoalannya bukan pada ide, melainkan pada integritas dan keseriusan pelaksanaannya.
Di republik yang maruk, program sebaik apa pun berisiko berubah menjadi ladang baru bagi praktik lama. Kita tidak kekurangan konsep, kita kekurangan kejujuran. Tanpa pengawasan yang ketat dan komitmen moral yang kuat, program seperti ini rawan disusupi kepentingan—dari mark-up anggaran, proyek fiktif, hingga praktik bagi-bagi kekuasaan di tingkat lokal.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ketika program-program populis dijalankan tanpa fondasi ekonomi yang kuat, kita sedang bermain api di tengah keringnya kepercayaan publik. Inflasi yang mengintai, daya beli masyarakat yang melemah, serta ketergantungan pada kebijakan jangka pendek bisa menjadi pemicu krisis yang lebih besar yakni krisis moneter.
Sejarah telah memberi pelajaran pahit tentang betapa rapuhnya sistem ekonomi ketika dikelola dengan serampangan. Krisis bukan hanya soal angka-angka di layar, tetapi soal nasib jutaan rakyat kecil yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan, kehilangan daya beli, bahkan kehilangan harapan. Dan yang paling sering menjadi korban bukanlah mereka yang membuat kebijakan, melainkan rakyat yang tak punya kuasa.
Dalam konteks ini, Idul Fitri seharusnya menjadi momen refleksi paling jujur bagi para pemegang kebijakan. Apakah program-program yang diluncurkan benar-benar untuk rakyat, atau sekadar alat pencitraan? Apakah anggaran dikelola dengan amanah, atau justru menjadi bancakan baru yang dibungkus dengan istilah “pemberdayaan”?
Kita tidak bisa lagi menutup mata. Republik ini tidak sedang baik-baik saja. Ketika keserakahan bertemu dengan kebijakan yang setengah matang, hasilnya bukan kesejahteraan, melainkan kehancuran yang tertunda.
Rakyat hari ini semakin cerdas. Mereka tidak hanya melihat apa yang dikatakan, tetapi juga apa yang dilakukan. Dan jika yang mereka lihat adalah ketimpangan antara janji dan realitas, maka kepercayaan akan terus runtuh. Tanpa kepercayaan, tidak ada stabilitas. Tanpa stabilitas, krisis hanya tinggal menunggu waktu.
Idul Fitri 1447 H harus menjadi titik balik, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara struktural. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus berani membersihkan diri, memperbaiki tata kelola, dan memastikan setiap program benar-benar berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan sempit.
Jika tidak, maka kita sedang berjalan perlahan menuju jurang yang sama yakni krisis ekonomi yang diperparah oleh krisis moral.
Selamat Idul Fitri 1447 Hijriah.
Di tengah ancaman krisis dan maraknya kemarukan, pertanyaannya sederhana, masihkah ada yang benar-benar setia pada amanah rakyat?