Menu

Mode Gelap
Idul Fitri 1447 H: Republik Maruk, Program Gagap, dan Bayang-Bayang Krisis Aidil Aksa Putra Kabaena Siap Nahkodai FANATIK, Tegaskan Komitmen Perkuat Gerakan Anti Korupsi HMI BADKO Sulsel Desak DPRD Sulsel Gelar RDP Terkait Penembakan Remaja di Makassar HMI BADKO SULSEL:Tantang Kapolrestabes Makassar Debat Terbuka Terkait Kasus Pembunuhan Remaja dalam Perspektif Perpol No.1 Tahun 2009 FANATIK Siap Kepung Kejati Sulsel, Desak Usut Dugaan Korupsi Proyek Jalan dan Drainase Rp21,6 Miliar

Hukum & Kriminal · 8 Feb 2026 WITA ·

GENGSI PUANG ATAU AROGANSI KEKUASAAN ?? Dugaan Aksi Koboi Ketua DPRD Soppeng Tuai Kecaman Publik


 GENGSI PUANG ATAU AROGANSI KEKUASAAN ?? Dugaan Aksi Koboi Ketua DPRD Soppeng Tuai Kecaman Publik Perbesar

Makassar — Dugaan aksi kekerasan yang melibatkan Ketua DPRD Kabupaten Soppeng terhadap seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan kantor pemerintahan menuai kecaman luas dari berbagai elemen masyarakat sipil. Peristiwa yang disebut-sebut sebagai “aksi koboi” tersebut dinilai tidak hanya mencederai korban secara personal, tetapi juga melukai nilai budaya Bugis-Makassar serta prinsip dasar negara hukum.

Dalam kultur Bugis-Makassar, kehormatan (siri’) dan martabat (gengsi puang) merupakan nilai luhur yang dijunjung tinggi. Namun, nilai tersebut sejatinya bukan legitimasi untuk bertindak sewenang-wenang. Kekerasan, terlebih dilakukan oleh pejabat publik dengan posisi kuasa, justru dipandang sebagai bentuk kegagalan moral dan runtuhnya kendali diri.

Public Research Institute (PRI) menilai dugaan tindakan tersebut sebagai bentuk arogansi kekuasaan yang berbahaya jika dibiarkan tanpa penegakan hukum yang tegas.

“Kalau benar seorang Ketua DPRD melakukan penganiayaan terhadap ASN, maka itu bukan cerminan gengsi puang, melainkan pengkhianatan terhadap nilai siri’ itu sendiri,” tegas Muhammad Abdul Azizul Gaffar, Direktur Eksekutif Public Research Institute, dalam keterangannya, Senin (—).

Azizul menekankan bahwa dalam falsafah Bugis-Makassar, orang yang benar-benar menjaga kehormatan tidak akan merendahkan martabat orang lain, apalagi mereka yang secara struktural berada dalam posisi lebih lemah.

“Kekerasan bukan simbol wibawa. Itu justru tanda runtuhnya etika dan kendali diri. Jabatan publik seharusnya melahirkan tanggung jawab moral yang lebih tinggi, bukan keberanian untuk menindas,” ujarnya.

Baca Juga :  Atasi Anak Putus Sekolah Bappelitbangda Sulsel Launching Pasti Beraksi

Lebih jauh, PRI juga menyoroti sikap aparat penegak hukum dan institusi terkait yang dinilai belum menunjukkan langkah tegas. Menurut Azizul, lambannya penanganan kasus semacam ini berpotensi memperkuat kesan bahwa jabatan dan pengaruh politik dapat menjadi tameng kebal hukum.

“Ketika hukum terlihat ragu, publik berhak curiga. Negara tidak boleh kalah oleh gengsi kekuasaan. Dalam nilai Bugis, kehormatan justru diuji ketika seseorang tunduk pada hukum, bukan ketika ia berlindung di balik jabatan,” kata Azizul.

PRI menegaskan bahwa ASN sebagai pelayan negara adalah bagian dari komunitas yang wajib dilindungi martabat dan keselamatannya. Dugaan kekerasan terhadap ASN, kata Azizul, adalah alarm keras bahwa relasi kuasa dalam birokrasi sedang tidak sehat.

“Yang terluka bukan hanya individu ASN itu, tapi juga kepercayaan publik bahwa negara hadir sebagai pelindung. Kalau ini dibiarkan, maka kita sedang menormalisasi kekerasan dalam institusi pemerintahan,” tambahnya.

Atas dasar itu, Public Research Institute mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus ini secara transparan dan adil. Selain itu, PRI juga meminta partai politik pengusung Ketua DPRD Soppeng agar tidak cuci tangan dan segera menjatuhkan sanksi etik maupun politik.

“Menuntut proses hukum, mendesak pencopotan aparat yang lalai, dan meminta sanksi partai bukanlah tindakan anarkis. Itu adalah upaya mengembalikan makna sejati gengsi puang—kehormatan yang lahir dari keadilan, bukan dari rasa takut,” tegas Azizul.

Baca Juga :  Gubernur Sulsel Sematkan 2.398 Satyalancana Karya Satya kepada PNS Pemprov Sulsel

Ia menutup dengan pernyataan keras bahwa gengsi puang sejati tidak pernah takut pada hukum, melainkan takut pada aib karena mengkhianati nilai.

“Kalau kekuasaan hari ini memilih membungkam kebenaran, maka sesungguhnya ia sedang merobek siri’ itu sendiri. Dan ketika siri’ runtuh, yang tersisa hanyalah kuasa tanpa etika,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 66 kali

Baca Lainnya

Idul Fitri 1447 H: Republik Maruk, Program Gagap, dan Bayang-Bayang Krisis

21 Maret 2026 - 06:26 WITA

Aidil Aksa Putra Kabaena Siap Nahkodai FANATIK, Tegaskan Komitmen Perkuat Gerakan Anti Korupsi

12 Maret 2026 - 19:32 WITA

HMI BADKO Sulsel Desak DPRD Sulsel Gelar RDP Terkait Penembakan Remaja di Makassar

12 Maret 2026 - 19:14 WITA

HMI BADKO SULSEL:Tantang Kapolrestabes Makassar Debat Terbuka Terkait Kasus Pembunuhan Remaja dalam Perspektif Perpol No.1 Tahun 2009

10 Maret 2026 - 20:37 WITA

FANATIK Siap Kepung Kejati Sulsel, Desak Usut Dugaan Korupsi Proyek Jalan dan Drainase Rp21,6 Miliar

9 Maret 2026 - 15:36 WITA

Desakan Copot Kapolrestabes Makassar Menguat, HMI Badko Sulsel: Kepemimpinan Polisi Harus Bertanggung Jawab

8 Maret 2026 - 22:20 WITA

Trending di News
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://jurnal-dev.polbangtan-bogor.ac.id/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://jurnal-dev.polbangtan-bogor.ac.id/doc/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/doc/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/apps/