Menu

Mode Gelap
Idul Fitri 1447 H: Republik Maruk, Program Gagap, dan Bayang-Bayang Krisis Aidil Aksa Putra Kabaena Siap Nahkodai FANATIK, Tegaskan Komitmen Perkuat Gerakan Anti Korupsi HMI BADKO Sulsel Desak DPRD Sulsel Gelar RDP Terkait Penembakan Remaja di Makassar HMI BADKO SULSEL:Tantang Kapolrestabes Makassar Debat Terbuka Terkait Kasus Pembunuhan Remaja dalam Perspektif Perpol No.1 Tahun 2009 FANATIK Siap Kepung Kejati Sulsel, Desak Usut Dugaan Korupsi Proyek Jalan dan Drainase Rp21,6 Miliar

Edukasi · 2 Feb 2026 WITA ·

OPINI: Retorika “Jadi Petani” Kapolri, Benteng Ego Institusi di Balik Kedok Kedaulatan?


 OPINI: Retorika “Jadi Petani” Kapolri, Benteng Ego Institusi di Balik Kedok Kedaulatan? Perbesar

Oleh: Abrian Tumanduk

(Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat / Mahasiswa Universitas Mega Rezky Makassar)

Makassar, 02 Februari 2026_Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI pada 26 Januari 2026 yang lebih memilih “menjadi petani” ketimbang menjabat sebagai Menteri Kepolisian mengejutkan publik. Pernyataan ini muncul sebagai respon keras terhadap wacana penempatan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah kementerian. Namun, bagi kami di Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (GMPR), retorika ini bukan sekadar luapan emosional, melainkan sinyal adanya resistensi terhadap upaya reformasi birokrasi dan penguatan pengawasan sipil atas institusi bersenjata.

Secara filosofis, profesi petani memang mulia. Namun, dalam konteks politik keamanan, pernyataan tersebut terkesan merendahkan usulan akademis dan tuntutan publik yang menginginkan Polri lebih akuntabel. Mengapa Kapolri seolah “alergi” dengan wacana reformasi struktural ini?

1. Resistensi Terhadap Check and Balances

Keinginan agar Polri tetap berada langsung di bawah Presiden seringkali dianggap ideal untuk efektivitas komando. Namun, posisi ini menjadikannya sangat sulit diawasi secara mendalam oleh publik melalui mekanisme kementerian yang lebih teknis. Dengan menolak wacana ini secara saklek, Polri seolah ingin mempertahankan “kemandirian mutlak” yang berpotensi memicu penyalahgunaan kekuasaan tanpa kontrol sipil yang kuat.

2. Petani Bukan Pelarian Politik

Sebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di Universitas Mega Rezky (Unimerz) Makassar, kami melihat penggunaan profesi petani sebagai perbandingan “pelarian” adalah langkah retoris yang kurang bijak. Petani adalah tulang punggung kedaulatan pangan, bukan sekadar opsi cadangan bagi pejabat yang enggan tunduk pada wacana regulasi baru. Polri seharusnya menghadapi kritik dan usulan penataan institusi dengan argumen berbasis data, bukan dengan narasi sentimentil.

Baca Juga :  Gunakan Kendaraan Taktis, Polres Pelabuhan Makassar Salurkan Air Bersih di Kawasan Utara Makassar

3. Urgensi Reformasi Institusi

Wacana penempatan di bawah kementerian bertujuan untuk memisahkan fungsi penetapan kebijakan (regulator) dan pelaksana (operator). Jika Kapolri lebih memilih mundur daripada beradaptasi dengan model tata kelola yang lebih demokratis, maka ini adalah alarm bagi demokrasi kita. Sejatinya, reformasi Polri adalah mandat reformasi yang belum tuntas.

Kami mendesak agar jajaran petinggi Polri tidak terjebak dalam ego sektoral. Jabatan adalah amanah untuk melayani rakyat, bukan posisi yang dipertahankan dengan ancaman untuk “pindah profesi”. Rakyat butuh kepolisian yang transparan dan siap diawasi, bukan institusi yang merasa tak tersentuh oleh perubahan zaman.

Artikel ini telah dibaca 68 kali

Baca Lainnya

BC.GAME Referral Code 2026: Why This Crypto Titan is Dominating 36+ Global Sports Markets Exclusive Review

30 Maret 2026 - 23:38 WITA

BC.GAME Referral Code

Idul Fitri 1447 H: Republik Maruk, Program Gagap, dan Bayang-Bayang Krisis

21 Maret 2026 - 06:26 WITA

Level Up Transaksi Gaming 2026: Mengapa Gamers Pro Wajib Pindah ke ShopeePay Plus?

18 Maret 2026 - 00:47 WITA

Level Up Transaksi Gaming

Tren Solopreneur 2026: Mengoptimalkan Arus Kas UMKM dengan Fitur Premium ShopeePay Plus

18 Maret 2026 - 00:44 WITA

Tren Solopreneur 2026

Strategi Ekonomi Hijau 2026: Mengubah Tagihan Bulanan Menjadi Sumber “Cuan” dengan ShopeePay Plus

18 Maret 2026 - 00:27 WITA

Strategi Ekonomi Hijau 2026

Aidil Aksa Putra Kabaena Siap Nahkodai FANATIK, Tegaskan Komitmen Perkuat Gerakan Anti Korupsi

12 Maret 2026 - 19:32 WITA

Trending di Edukasi
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://jurnal-dev.polbangtan-bogor.ac.id/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://jurnal-dev.polbangtan-bogor.ac.id/doc/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/doc/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/apps/