Menu

Mode Gelap
Settingan Makassar oleh Sang Mantan, Merusak Ketenangan Soppeng Prestasi ‘Luar Biasa’ Ketua DPRD Soppeng: Tendang ASN dan Bikin Integritas Polisi ‘Batuk-Batuk’ Di duga Masuk Angin Hukum Ditekuk, Rakyat Ditindas : Ketua DPRD Soppeng Bertingkah Seperti Penguasa Lalim Dituding ‘Koboi’, Jabatan Ketua DPRD Soppeng Diujung Tanduk: PRI Kepung Kantor Golkar Senin Depan Ketua IMAPA Bone Jakarta : Yasika Aulia Ramadhani Kartini muda penjaga harapan dan Gizi masyarakat Bone

Edukasi · 2 Feb 2026 WITA ·

OPINI: Retorika “Jadi Petani” Kapolri, Benteng Ego Institusi di Balik Kedok Kedaulatan?


 OPINI: Retorika “Jadi Petani” Kapolri, Benteng Ego Institusi di Balik Kedok Kedaulatan? Perbesar

Oleh: Abrian Tumanduk

(Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat / Mahasiswa Universitas Mega Rezky Makassar)

Makassar, 02 Februari 2026_Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI pada 26 Januari 2026 yang lebih memilih “menjadi petani” ketimbang menjabat sebagai Menteri Kepolisian mengejutkan publik. Pernyataan ini muncul sebagai respon keras terhadap wacana penempatan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah kementerian. Namun, bagi kami di Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat (GMPR), retorika ini bukan sekadar luapan emosional, melainkan sinyal adanya resistensi terhadap upaya reformasi birokrasi dan penguatan pengawasan sipil atas institusi bersenjata.

Secara filosofis, profesi petani memang mulia. Namun, dalam konteks politik keamanan, pernyataan tersebut terkesan merendahkan usulan akademis dan tuntutan publik yang menginginkan Polri lebih akuntabel. Mengapa Kapolri seolah “alergi” dengan wacana reformasi struktural ini?

1. Resistensi Terhadap Check and Balances

Keinginan agar Polri tetap berada langsung di bawah Presiden seringkali dianggap ideal untuk efektivitas komando. Namun, posisi ini menjadikannya sangat sulit diawasi secara mendalam oleh publik melalui mekanisme kementerian yang lebih teknis. Dengan menolak wacana ini secara saklek, Polri seolah ingin mempertahankan “kemandirian mutlak” yang berpotensi memicu penyalahgunaan kekuasaan tanpa kontrol sipil yang kuat.

2. Petani Bukan Pelarian Politik

Sebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di Universitas Mega Rezky (Unimerz) Makassar, kami melihat penggunaan profesi petani sebagai perbandingan “pelarian” adalah langkah retoris yang kurang bijak. Petani adalah tulang punggung kedaulatan pangan, bukan sekadar opsi cadangan bagi pejabat yang enggan tunduk pada wacana regulasi baru. Polri seharusnya menghadapi kritik dan usulan penataan institusi dengan argumen berbasis data, bukan dengan narasi sentimentil.

Baca Juga :  Div TIK Polri Siagakan Repeater Mobile Di Titik Blank Spot di G20

3. Urgensi Reformasi Institusi

Wacana penempatan di bawah kementerian bertujuan untuk memisahkan fungsi penetapan kebijakan (regulator) dan pelaksana (operator). Jika Kapolri lebih memilih mundur daripada beradaptasi dengan model tata kelola yang lebih demokratis, maka ini adalah alarm bagi demokrasi kita. Sejatinya, reformasi Polri adalah mandat reformasi yang belum tuntas.

Kami mendesak agar jajaran petinggi Polri tidak terjebak dalam ego sektoral. Jabatan adalah amanah untuk melayani rakyat, bukan posisi yang dipertahankan dengan ancaman untuk “pindah profesi”. Rakyat butuh kepolisian yang transparan dan siap diawasi, bukan institusi yang merasa tak tersentuh oleh perubahan zaman.

Artikel ini telah dibaca 40 kali

Baca Lainnya

Hukum Ditekuk, Rakyat Ditindas : Ketua DPRD Soppeng Bertingkah Seperti Penguasa Lalim

2 Februari 2026 - 17:22 WITA

Ketua IMAPA Bone Jakarta : Yasika Aulia Ramadhani Kartini muda penjaga harapan dan Gizi masyarakat Bone

26 Januari 2026 - 20:20 WITA

Negara Jangan Kalah Sama Pejabat! Massa Kepung Mapolda Sulsel, Tuntut Supervisi Kasus ‘Koboi’ Ketua DPRD

26 Januari 2026 - 15:16 WITA

Antara Rakyat dan Rompi Oranye: Labirin Maut Kepala Daerah di Tahun 2026

20 Januari 2026 - 16:47 WITA

Tragedi Kemanusiaan di Kabaena: Kegagalan Tata Kelola Kesehatan dan Pengkhianatan terhadap Asta Cita

20 Januari 2026 - 14:27 WITA

“Negara di Ujung Tanduk: Saat Jenderal Diduga Jadi Teknisi Mesin Pembunuh Narkoba

18 Januari 2026 - 03:22 WITA

Trending di Hukum & Kriminal
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
dv188
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://jurnal-dev.polbangtan-bogor.ac.id/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://jurnal-dev.polbangtan-bogor.ac.id/doc/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/doc/
slot gacor
slot gacor maxwin
situs slot gacor
slot gacor hari ini
link slot gacor
https://polbangtan-bogor.ac.id/apps/