Makassar — Maraknya aksi geng motor yang terjadi di Kota Makassar belakangan ini menjadi ancaman serius bagi keamanan dan ketertiban masyarakat. Aksi brutal yang dilakukan kelompok geng motor tidak hanya meresahkan warga, tetapi juga menciptakan rasa takut di ruang-ruang publik, terutama pada malam hari.
Fenomena ini dinilai tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat kepolisian semata. Penanganan dan penumpasan geng motor membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, keluarga, lembaga pendidikan, hingga organisasi kepemudaan.
Bidang Pertahanan dan Keamanan HMI Sulawesi Selatan menegaskan bahwa persoalan geng motor merupakan masalah sosial yang kompleks dan harus diselesaikan secara kolektif.
“Penumpasan geng motor bukan hanya tugas polisi. Ini adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Makassar. Jika semua pihak hanya menonton dan menyalahkan aparat, maka masalah ini tidak akan pernah selesai,” tegasnya.
Menurutnya, aparat kepolisian memang memiliki kewenangan dalam penegakan hukum, namun akar persoalan geng motor lahir dari lemahnya kontrol sosial di tengah masyarakat. Kurangnya perhatian keluarga, minimnya pendidikan moral, pengaruh lingkungan, serta rendahnya kepedulian sosial menjadi faktor yang turut melahirkan kelompok-kelompok kekerasan jalanan tersebut.
HMI Sulsel menilai bahwa masyarakat selama ini cenderung bersikap pasif terhadap fenomena geng motor. Banyak warga memilih diam meski mengetahui aktivitas kelompok-kelompok tersebut di lingkungannya. Padahal, keterlibatan masyarakat dalam memberikan informasi dan melakukan pengawasan lingkungan sangat penting untuk mencegah berkembangnya aksi kriminalitas.
“Jangan sampai kita hanya ramai setelah ada korban. Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga dan masyarakat sekitar,” lanjutnya.
Selain itu, pemerintah Kota Makassar juga diminta untuk tidak hanya mengandalkan pendekatan keamanan semata. Dibutuhkan program pembinaan pemuda yang lebih serius melalui kegiatan positif, pelatihan keterampilan, pendidikan karakter, hingga penyediaan ruang kreatif bagi generasi muda agar tidak mudah terjerumus dalam kelompok-kelompok kekerasan jalanan.
HMI Sulsel juga mendorong adanya sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, sekolah, kampus, dan organisasi masyarakat untuk bersama-sama membangun gerakan sosial melawan geng motor.
Menurutnya, jika masyarakat dan negara berjalan sendiri-sendiri, maka aksi geng motor akan terus tumbuh dan menjadi ancaman permanen bagi Kota Makassar.
“Makassar tidak boleh kalah oleh kelompok-kelompok yang merusak ketenangan masyarakat. Kota ini harus dijaga bersama. Keamanan adalah tanggung jawab kolektif,” tutupnya.